Kamis, 02 Mei 2013






sedikit mengenai kerajaan pajang sob.......

    Kerajaan pajang

Kerajaaan Pajang terletak di sekitar Kota Kartasura, Jawa Tengah atau terletak disebelah timur Kota Yogyakarta .

a.     Politik dan Pemerintahan Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang merupakan salah satu kerajaan bercorak islam di Indonesia yang erat kaitannya dengan kerajaan demak. Berdirinya kerajaan pajang di awali dengan perebutan tahta kerajaan di lingkungan keluarga kerajaan demak yang berakhir dengan berpindahnya kerajaan demak ke pajang.
Raja-raja yang pernah memerintah kerajaan pajang antaralain sebagai berikut :

1.      Sultan Hadiwijaya (1568-1582)

       Pada masa pemerintahan sultan hadiwijaya wilayah kekuasaan pajang semakin berkembang, yakni meliputi jawa tengah serta daerah pantai utara jawa timur seperti Gresik, Tuban, Sedayu, Panarukan. Kemudian, pada tahun 1586, sultan hadiwijaya wafat dan kekuasaannya digantikan oleh pangeran Benowo.

2.      Pangeran Benowo (1582-1586)

       Pada saat pemerintahan Pangeran Benowo terjadi upaya perebutan kekuasaan oleh arya pangiri (putra sunan prawoto). Upaya pangeran Benowo, yang dibantu oleh sutawijaya (putra hadiwijaya), berhasil mengalahkan arya pangiri. Oleh karena pangeran Benowo merasa kurang mampu untuk melanjutkan maka kekuasaan kerajaan pajang diserahkan kepada sutawijaya. Oleh sutawijaya, pusat pemerintahan pajang dipindahkan ke Kotagede (Mataram)Yogyakarta dan sekaligus menandai berakhirnya kerajaan pajang.

b.     Kehidupan Sosial, Budaya, dan Ekonomi Kerajaan Pajang

Sultan Hadiwijaya (Adiwijaya) pada saat memerintah kerajaan pajang berupaya membangun kekuasaannya yang bercorak islam dengan penuh kebijaksanaan. Sumber perekonomian Pajang antaralain berasal dari hasil pertanian dan perdagangan. Kesusastraan dan kesenian yang kian maju di demak dan jepara semakin dikenal hingga ke pedalaman dimana pusat kerajaan pajang berada.

kerajaan mataram islam



Kerajaan mataram islam

Kerajaan mataram islam terletak di kotagede atau disebelah selatan kota Yogyakarta.

a. Politik Dan Pemerintahan Kerajaan Matara Islam

Kerajaan Mataram Islam memiliki kaitan erat dengan Kerajaan Pajang. Berdirinya kerajaan mataram islam diawali dengan perebutan tahta kerjaan yang berasal dari keluarga kerajaan pajang oleh arya pangiri. Peristiwa iti berakhir dengan berpindahnya pusat pemerintahan  kerajan pajang ke kotagede (mataram), Yogyakarta. Berikut raja-raja yang pernah memerintah kerajaan islam.

1.    Sutawijaya (1586-1601 M)
Ketika naik tahta, Sutawijaya bergelar panembahan senopati ing alaga sayidin panatagama khalifatullah, berarti pemimpin perang yang tangguh di medan laga dan ulama penyebar agama islam. Pada tahun 1601, Panembahan senopati wafat dan dimakamkan di kotagede, Yogyakarta.

2.    Mas Jolang (1601-1613 M)
Setelah Panembahan senopati wafat, tahta kerajaan digantikan mas jolang, yang bergelar sultan anyakrawati atau Panembahan Sedo Krapyak. Ia berusaha memperluas wilayah kekuasaan ke daerah sekitarnya. Pada tahun 1613, mas jolang wafat di Desa krapyak dan dimakamkan di kotagede Yogyakarta.

3.    Mas Rangsang atau Sultan Agung (1613-1645 M)
Mas Rngsang menggantikan tahta kerajaan Mataram Islam dan bergelar sultan Agung Hanyakrakusuma. Pada masa sultan Agung, Kerajaan mataram Islam mencapai puncak kejayaannya, dengan wilayahnya yang melipti Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa barat 9kecuali Cirebon, banten, dan Batavia yang belum dapat ditundukkan). Ibukota kerajaan mataram islam yang semula di kotagede, oleh sultan agung di pindahkan ke Plered. Sultan agung terkenal sebagai raja yang tegas, bijaksana, adil, dan jujur serta terkenal pula sebagai pahlawan yang berusaha keras mengusir imperialisme belanda pada tahun 1628 dan 1629, meskipun belum berhasil. Selain itu, sultan Agung juga berjasa dalam bidang perkembangan agama, sastra-budaya, dan filsafat. Sultan agung wafat pada tahun 1645, dan dimakamkan di Imogiri, Yogyakarta. Pemegang kekuasaan kerajaan mataram islam selanjutnya diperintah oleh Sunan Amangkurat I dan Sunan Amangkurat II.

4.    Sunan Amangkurat I (1645-1677 M)
Pada masa pemerintahan amangkurat I, Kerajaan Mataram Islam mulai Nampak kemundurannya. Hal ini ditandai dengan perjanjian bersama antara Sunan Amangkurat I dengan VOC tahun 1646 yang mengizinkan VOC untuk mendirikan benteng di Wilayah Kerajaan Mataram Islam. Tindakan Amangkurat I tersebut ditafsirkan oleh pejuang mataram sebagai bentuk penghianatan  terhadap perjuangan ayahnya (sultan Agung) sehingga menimbulkan perlawanan dari kerajaan.

5.    Sunan Amangkurat II (1677-1703 M)
Pangeran Adipati Anom menggantikan ayahnya (Amangkurat I) memimpin tahta Kerajaan Mataram Islam dan bergelar sunan Amangkurat II.

Akibat dari tindakan Amangkurat I yang bekerjasama dengan VOC, adalah adanya campur tangan VOC dalam urusan pemerintahan kerajaan, seperti tindakan VOC yang memindahkan pusat kerajaan di Plered-Kotagede ke Sumatra.

            Pada tahun 1703 amangkurat II wafat dan digantikan oleh amangkurat III, Amangkurat IV, Pakubowono I Pakubowono II, dan Pakubuwono III. Pada tahun 1745, Pakubowono II mendapat perlawanan dari Raden Mas Said (Pangeran Sambo Nyawa) dan Pangeran Mangkubumi, yang menilai Pakubowono II masih bekerja sama dengan VOC. Namun, VOC terus melakukan upaya memecah belah kekuatan Raden Mas Said dan Mangkubumi, yakni ditandai dengan dibuatnya perjanjian Giyanti (ditandatangani pada tanggal 13 Februari 1755 oleh Mangkubumi, Pakubuono III, dan VOC) dan perjanjian salatiga (ditandatangani pada tanggal 17 maret 1757 oleh Raden Mas Said dan VOC).

b.  Kehidupan Sosial, Budaya, Dan Ekonomi Kerajaan Mataram Islam

Pada Masa Kekuasaan Sultan Agung, Kerajaan Mataram Islam mencapai masa keemasan. Pada saat itu, terdapat kemajuan dalam segala bidang, baik ekonomi, sosial, keagamaan maupun buday.  Perekonomian Mataram Islam bersumber dari pertanian yang maju, sehingga rakyat hidup makmur dan tentram, Karena keamanannya terjaga dengan baik. Peninggalan budaya Mataram Islam pada masa pemerintahan Sultan Agung antara lain karya sastra budaya dan filsafat